Perbedaan KPR Syariah dan Konvensional sangat perlu diketahui khususnya oleh umat Islam. Perbedaannya sangat nyata dari hulu hingga hilir. Ini sangat penting diketahui karena seorang muslim atas dorongan keimanannya tentu memahami bahwa segala perbuatan dan pilihan hidupnya PASTI dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt. Khususnya dalam kepemilikan Properti baik Rumah maupun Ruko sebagai tempat usaha, maka Keberkahan nya dimulai dari Cara Memilikinya. Insya Allah.

KPR Syariah dan Konvensional berbeda secara konsep dari hulu hingga hilir

Mulai dari kepemilikan lahan, proses pembangunan hingga akad transaksi jual beli diatur dengan sempurna oleh Islam. Oleh sebab itu, kami perumahansyariah.net sebagai bagian dari agen-syariah.com hanya bekerjasama dengan para Developer Murni Syariah yang tidak saja Amanah tapi juga memahami hukum-hukum Syariah, khususnya berkenaan dengan bisnis properti.

Sistem yang digunakan oleh Developer Property Syariah :

🍃 Jual beli dilakukan secara langsung antara developer (owner) dan pembeli
🍃 Tidak ada riba karena murni akad jual beli, bukan Peminjaman atau sewa
🍃 Tidak ada akad ganda (sewa beli) tapi satu akad yaitu jual beli
🍃 Tidak ada denda jika buyer terlambat dalam mencicil
🍃 Tidak ada sita jika buyer tidak mampu mencicil dan akan dicarikan solusi terbaik
🍃 Proses cepat dan mudah karena tidak ada BI Checking
🍃 Cicilan flat tidak mengikuti suku bunga karena ketika cicilan berubah maka jatuhnya riba
🍃 Adanya negosiasi dari mulai harga cash, negosiasi DP dan lamanya waktu cicilan DP

Perbedaan KPR Syariah dan Konvensional dapat kita lihat dari beberapa Parameter :

Keuntungan Skema syariah yang dimaksud adalah sistem KPR yang sama sekali berbeda dengan KPR bank, di mana pada perumahan syariah ini tidak dikenal adanya proses BI Checking, cicilannya yang flat dan tidak berbunga sampai akhir, tidak ada sistem denda untuk pembayaran cicilan yang terlambat, terjamin dari penyitaan karena sertifikat diberikan kepada konsumen sejak awal, tidak adanya asuransi, dan akad-akad lainnya yang bermasalah.

Tanpa BI Checking

Pada KPR bank, lazim diketahui adanya proses BI Checking, yaitu mekanisme pengecekan oleh bank atas pinjaman seorang pengaju KPR beserta jejaknya (baca: lancar atau macet). Di properti syariah tidak ada proses BI Checking, karena urusan KPR-nya hanya dilakukan oleh dua pihak saja (pembeli dan pengembang), tidak ada pihak ketiga (bank).

Tanpa Bunga

Cicilan di properti syariah bersifat flat dan tidak berbunga. Bunga (tambahan utang) sendiri dalam kacamata Islam merupakan sesuatu yang diharamkan. Dilarangnya penerapan bunga dalam utang piutang oleh syariah memiliki hikmah agar pihak yang berutang tidak mengalami beban kerugian yang semakin bertumpuk seiring dengan panjangnya waktu pinjaman.

Tanpa Denda

Denda termasuk salah satu bentuk manfaat yang bisa dirasakan oleh pihak pemberi pinjaman. Karena itulah denda termasuk ke dalam riba yang diharamkan Islam sebagaimana bunga. Pengembang pada perumahan syariah tidak menerapkan sistem yang memberatkan konsumen jika mengalami keterlambatan dalam membayar.

Tanpa Sita

Salah satu hal yang tidak diperkenankan Islam dalam akad kredit adalah dijadikannya barang yang sedang dikredit sebagai agunan. Karena itu developer perumahan syariah tidak menahan sertifikat rumah dan memberikannya langsung kepada konsumen sekalipun sedang dalam proses mencicil. Hal ini membuat konsumen terbebas dari kekhawatiran akan terjadinya penyitaan atas rumahnya seandainya terjadi kemacetan dalam KPR yang sedang dijalaninya.

Tanpa Asuransi

Dalam perspektif syariah, asuransi termasuk ke dalam suatu perniagaan spekulatif yang diharamkan. KPR perumahan syariah tidak mengakadkan asuransi dalam proses jual belinya. Segala kondisi terburuk yang mungkin terjadi sama-sama ditanggung oleh kedua belah pihak (pengembang dan pembeli).

Tanpa Akad-Akad Bermasalah

Bisnis properti merupakan suatu perniagaan yang melibatkan banyak pihak. Karenanya dipastikan banyak pula akad-akad yang dijalankan. Akan tetapi sebagai bisnis yang merupakan antitesis dari bisnis properti yang melibatkan bank, segala akadnya dijaga dari kemungkinan ketersalahan dari sisi muamalahnya. Termasuk dalam hal penyediaan lahan di mana perumahan yang dijualkan akan dibangun di atasnya. Status lahannya sudah harus milik pengembang sendiri atau milik tuan tanah yang sudah dijadikan sebagai mitra bisnis dengan keuntungan bagi hasil.

KPR Syariah dan Konvensional
KPR Syariah dan Konvensional

KPR Syariah dan Konvensional : Parameter Perbedaannya

PIHAK YANG MELAKUKAN TRANSAKSI
🔘 Kredit Agen-Syariah.com : Dua Pihak yaitu antara pembeli dan developer
🔘 Bank Syariah : Tiga Pihak yaitu antara pembeli, developer serta bank
🔘 Bank Konvensional : Tiga Pihak yaitu antara pembeli, developer serta bank

Sehingga kita harus mencermati dengan baik apakah kredit kepemilikan rumah baik secara syariah atau konvensional terjadi transaksi jual beli atau hanya pendanaan dari bank. Jika memang jual beli maka halal dan jika hanya pendanaan bank maka haram.

BARANG JAMINAN
🔘 Kredit Agen-Syariah.com : Rumah yang di perjualbelikan/kredit tidak dijadikan jaminan
🔘 Bank Syariah : Rumah yang diperjualbelikan/kredit dijadikan jaminan
🔘 Bank Konvensional : Rumah yang diperjualbelikan/kredit dijadikan jaminan

Ada ikhtilaf atau perbedaan pendapat ulama mengenai apakah produk yang diperjualbelikan boleh dijadikan jaminan atau dilarang. Pada masalah ini, Kredit Rumah Syariah mengambil pendapat berdasarkan dalil dan hujjah yang lebih kuat bahwa rumah yang sedang diperjualbelikan/kredit dilarang dijadikan jaminan.

SISTEM DENDA
🔘 Kredit Agen-Syariah.com : Tidak dikenakan denda
🔘 Bank Syariah : Dikenakan denda
🔘 Bank Konvensional : Dikenakan denda

SISTEM SITA
🔘 Kredit Agen-Syariah.com : Tidak ada sita
🔘 Bank Syariah : Tidak ada sita
🔘 Bank Konvensional : Ada sita

Dalam Kepemilikan Rumah Syariah tidak diperbolehkan melakukan penyitaan (sita) jika pembeli tidak sanggup untuk meneruskan cicilannya lagi ditengah jalan. Karena rumah tersebut sudah sepenuhnya milik pembeli walaupun masih kredit. Solusinya adalah pembeli ditawarkan untuk menjual rumahnya baik lewat pembeli atau dengan bantuan developer.

Jika misal sisa hutang masih 100 juta kemudian rumah terjual 300 juta. Maka pembeli membayar sisa hutang yang 100 juta dan nilai 200 juta adalah hak pembeli.

SISTEM PENALTY
🔘 Kredit Agen-Syariah.com : Tidak dikenakan pinalty
🔘 Bank Syariah : Tidak dikenakan pinalty
🔘 Bank Konvensional : Dikenakan pinalty

Jika pembeli mempercepat pelunasan didalam waktu tenor berjalannya, misal waktu tenor 10 tahun kemudian di tahun 8 sudah dilunasi maka tidak dikenakan pinalty dalam Kredit Kepemilikan Rumah Syariah karena itu masuk dalam kategori riba. Bahkan Developer Rumah Syariah dapat memberikan diskon harga, yang nilainya dikeluarkan saat pelunasan terjadi.

SISTEM ASURANSI
🔘 Kredit Agen-Syariah.com : Tidak menggunakan asuransi
🔘 Bank Syariah : Menggunakan asuransi
🔘 Bank Konvensional : Menggunakan asuransi

Dalam Kredit Kepemilikan Rumah Syariah tidak memakai asuransi apapun karena asuransi adalah haram yang didalamnya ada riba, ghoror (akad tidak jelas), maysir (judi) dan lain-lain.

SISTEM BI CHECKING ATAU BANKABLE
🔘 Kredit Agen-Syariah.com : Tidak menggunakan BI Checking/Bankable
🔘 Bank Syariah : Ada BI Checking/Bankable
🔘 Bank Konvensional : Ada BI Checking/Bankable

Dalam Kredit Kepemilikan Rumah Syariah tidak boleh ada denda jika terjadi keterlambatan angsuran karena itu dapat dimasukan dalam kategori riba. Dalam jual beli secara kredit maka sejatinya adalah hutang piutang. Jadi jika harga sudah di akadkan maka tidak boleh ada kelebihan sedikitpun baik dinamakan denda, administrasi atau bahkan infaq sekalipun. Karena ini termasuk mengambil manfaat dari hutang piutang yaitu riba.
Perbedaan KPR Syariah dan Konvensional
Perbedaan KPR Syariah dan Konvensional

Firman Allah SWT :

“(Dan) tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi seluruh umat manusia” (QS Al Anbiyaa’: 107).

Ayat diatas menjelaskan bahwa Rasulullah saw telah datang dengan membawa syariat yang mengandung maslahat bagi manusia secara umum, bukan hanya untuk umat Islam saja.

Syariat Islam merupakan ketentuan dan hukum yang ditetapkan oleh Allah atas hamba-hamba-Nya yang diturunkan melalui Rasul-Nya, Muhammad saw., untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesamanya. Artinya, cakupan syariat Islam meliputi akidah dan syariat. Dengan kata lain, syariat Islam bukan hanya mengatur seluruh aktivitas fisik manusia (af‘âl al-jawârih), tetapi juga mengatur seluruh aktivitas hati manusia (af‘âl al-qalb) yang biasa disebut dengan akidah Islam. Karena itu, syariat Islam tidak dapat direpresentasikan oleh sebagian ketentuan Islam dalam masalah hudûd (seperti hukum rajam,hukum potong tangan, dan sebagainya); apalagi oleh keberadaan sejumlah lembaga ekonomi yang menjamur saat ini semisal bank syariah, asuransisyariah, reksadana syariah, dan sebagainya.

Hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, mencukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan meridhai Islam sebagai agama bagi kalian. (QS al-Mâ’idah [5]: 3).

Kami telah menurunkan al-Kitab (al-Quran) ini kepadamu (Muhammad) untuk menjelaskan segala sesuatu. (QS an-Nahl [16]: 89).

Aku telah meninggalkan dua perkara yang menyebabkan kalian tidak akan sesat selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya. (HR at-Turmudzî, Abû Dâwud, Ahmad).

Begitu pula Firman Allah SWT:

“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS Yunus: 57).

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhan-mu sebagai petunjuk dan rahmat” (QS Al An’aam: 157).

Maksud dari “petunjuk” dan “rahmat” dalam ayat diatas adalah dengan membawa manfaat bagi manusia atau menjauhkan kemadlaratan dari dirinya. Inilah yang disebut “maslahat”.  Sebab, arti dari maslahat adalah membawa kemanfaatan dan mencegah kerusakan.

Yang menentukan apakah sesuatu itu maslahat atau tidak adalah wewenang syara’ semata.  Sebab, syara’ datang memang membawa masla­hat dan dialah yang menentukan/menyebutnya untuk manusia, karena yang dimaksud maslahat adalah kemaslahatan/kepentingan manusia itu sendiri sebagai makhluk.  Bahkan yang dimaksud dengan maslahat bagi individu, adalah kemaslahatannya berkenaan dengan sifatnya sebagai “manusia”, bukan keberadaannya sebagai individu (pribadi).     Memang, kemaslahatan dapat ditentukan berdasarkan syara’ atau berdasarkan akal manusia.  Akan tetapi, jika akal manusia dibiarkan menentukannya sendiri, maka teramat sulit bagi manusia untuk menentu­kan hakekat kemaslahatan tersebut. Sebab, akal manusia memiliki kemam­puan yang terbatas.  Ia tidak mampu menetapkan apa yang menjangkau dzat dan hakekatnya selaku manusia.  Oleh karena itu, akal tidak akan mampu menentukan apa yang sebenarnya maslahat bagi manusia.  Bagai­mana mungkin ia dapat menetapkan, sementara ia tidak mampu mengapre­siasi dirinya sendiri?

Hanya Allah-lah yang mampu menjangkau hakekat manusia, sebab Dialah yang menciptakan manusia.  Oleh karena itu, hanya Dialah yang berhak menentukan apa-apa yang menjadi maslahat dan mafsadat bagi manusia secara rinci dan pasti.

Walaupun manusia dapat menduga apakah sesuatu itu mengandung manfaat atau mafsadat untuk dirinya, tetapi ia tidak mungkin menentukan dengan pasti dan rinci.  Apabila kemaslahatan tergantung pada persang­kaan manusia, maka akan mengakibatkan terjerumusnya manusia itu ke dalam kebinasaan.  Sebab kadang-kala manusia menyangka sesuatu itu mengandung maslahat, tetapi ternyata tidak demikian.  Berarti ia telah menetapkan bahwa sesuatu itu mafsadat untuk manusia, sedang ia menganggapnya maslahat, sehingga terjerumuslah manusia ke dalam malapeteka.  Demikian pula sebaliknya, kadangkala ia menyangka bahwa sesuatu itu adalah mafsadat, kemudian terbukti hal itu sebaliknya.  Disini ia telah menjauhkan kemaslahatan dari diri manusia, karena ia mengang­gapnya sebagai mafsadat, sehingga ia ditimpa kemadlaratan karena men­jauhkan maslahat dari kehidupannya.

Hukum Syara' Membawa Maslahat
Hukum Syara’ Membawa Maslahat

Begitu pula kadang-kadang hari ini akal manusia memandang atau memutuskan sesuatu itu maslahat, kemudian esok harinya menyatakan sebagai mafsadat.  Atau sebaliknya, sekarang sesuatu dinyatakan sebagai mafsadat, esok harinya ia menyatakan sebagai maslahat.  Berarti ia telah menetapkan bagi sesuatu itu mengandung maslahat sekaligus mafsadat.  Hal ini tidak boleh dan tidak mungkin ada.  Sebab segala sesuatu pada suatu kondisi hanya mempunyai satu kemungkinan, yaitu berupa mafsadat atau maslahat.  Tidak mungkin keduanya berpadu dalam satu kondisi.  Jika tidak, berarti maslahat yang ditentukannya bukan maslahat yang hakiki, tetapi maslahat sekedar dugaan (nisbi).

Dengan demikian maka wajib tidak membiarkan akal untuk menentukan apa sebenarnya yang dimaksud dengan maslahat, sebab yang berhak menentukannya adalah syara’.  Syara’lah yang menentukan mana maslahat dan mana mafsadat yang sebenarnya (hakiki).  Akal hanyalah memahami suatu kenyataan (kejadian) sebagaimana adanya (tanpa ditam­bah-tambah).  Kemudian akal memahami pula nash-nash syar’iy yang ber­kaitan dengan kenyataan tersebut, lalu nash-nash itu diterapkan terhadap kenyataan.  Jika telah diterapkan dan sesuai dengan pembahasan, maka dikatakan atau mafsadat berdasarkan nash-nash syar’iy.  Apabila tidak sesuai dengan kenyataan tersebut, maka dicari nash yang mempunyai makna yang sesuai dengan kenyataan tersebut, agar ia mengetahui masla­hat yang telah ditetapkan oleh syara’, dengan memahami hukum Allah dalam masalah itu.

Jadi maslahat harus didasarkan pada syara’, bukan pada akal. Ia senantiasa menyertai syara’.  Dimana ada syara’, pasti ada maslahat.  Sebab syara’lah yang menentukan kemaslahatan bagi manusia selaku hamba Allah SWT.

Demikianlah sebagaimana yang dinyatakan oleh kaidah ushul berikut:

[حَيْثُمَا كَانَ الشَّرْعُ فَثَمَّتِ اْلمَصْلَحَةُ]

Di mana pun ada syariat, di situ pasti ada maslahat.

Perbedaan KPR Syariah dan Konvensional sudah sangat nyata. Oleh sebab itu seorang muslim yang mengimani akan hari akhirat, yaumul hisab tentu akan mengedepankan pilihan hidupnya sesuai dengan perintah penciptanya, Allah swt. Hanya dengan demikianlah, janji Nya akan surga seluas langit dan bumi bagi yang bertaqwa dengan sesungguhnya Insya Allah menanti kita. Amin Allahuma Amin.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kita kemudahan dalam memiliki rumah syariah tanpa riba sehingga rumah tersebut penuh dengan keberkahan

Wallaahu ta’ala a’lam